June 04, 2011

Biografi ketiga dewan juri MASTER CHEF


Ada tiga dewan juri yang kesemuanya adalah para chef profesional dalam bidang kuliner, ketiga dewan juri itu adalah : Master Vindex, Master Juna dan Master Marinka.
Berikut ini profile ketiga dewan juri tersebut :


Master Vindex

Profil singkat
Lahir di Jakarta 24 November 1968 yang bernama lengkap Vindex Valentino Tengker ini memulai karir nya sebagai chef sejak tahun 1989. Berbagai pengalaman sudah didapatkan dari berbagai negara dan hotel berbintang, diantaranya Hotel Amandari, Bali Dynasty, Dubai, Mallorca, Hotel Four Seasons, Los Angeles, Bali dan Jakarta. Beliau ini adalah President Assosiasi Culinary Professional Indonesia yang juga menjabat sebagai Chef Eksekutif di Hotel Four Seasons, Jakarta.
Walau Chef asal Manado ini lahir di Jakarta, beliau lebih merasa Bali adalah rumahnya.
“Bali lebih baik, untuk pekerjaan juga bagus, disana tidak macet dan kita bisa tahu durasi yang dibutuhkan untuk menuju suatu tempat, tidak seperti Jakarta, sulit diprediksi. Apabila mengemudi 30 menit, kadang bisa membutuhkan 2 jam. Hal ini membuat frustrasi”, katanya.
Chef Vindex punya impian untuk pensiun di Bali, tapi sekarang ini beliau masih ingin terus bekerja di berbagai hotel di Asia.
“Mungkin saya akan membuka sebuah restoran dengan masakan rumahan”
Perjalanan Karir
Chef Vindex tertarik dengan memasak karena sejak kecil beliau suka membantu neneknya memasak. Apalagi beliau suka makanan apa aja. Menurut Chef Vindex, memasak itu adalah bakat karena ada orang yang suka masak tapi selalu gagal.
Setelah lulus dari LPLIP (Lembaga Pendidikan dan Latihan Industri Pariwisata) yang sekarang namanya APJ (Akademi Pariwisata Jakarta), beliau bekerja sebagai chef di berbagai hotel internasional.
“Di hotel itu saya menjabat sebagai Indonesian Chef, yang bagi saya ketika itu jadi tantangan tersendiri. Pasalnya, saya sebenarnya enggak menguasai sama sekali masakan Indonesia. Di bangku sekolah, kami diajarkan secara umum dan paling banyak menu western . Tapi entah mengapa saya lulus tes dan dikursuskan masakan Indonesia selama 2 minggu untuk mempelajari 24 menu yang akan disajikan di hotel.”
Setahun bekerja di Hotel Amandari, Chef Vindex pindah ke Bali Dynasty. Lalu setahun kemudian beliau berhenti dan pindah ke Spanyol karena mendapat tawaran kerja di sebuah restoran Indonesia di Mallorca, Spanyol.
“Waktu tahun kedua bekerja di Spanyol saya baru saja menikah. Jadi saya boyong istri sekalian bulan madu di sana, itu pengalaman yang menyenangkan. Dulu sewaktu baru saja merintis karir sebagai chef, saya sempat gugup ketika disuruh menemui tamu dan menanyakan bagaimana rasa masakannya. Bagi saya hal itu tidak mudah, seperti orang yang baru belajar pidato di depan banyak orang.Waktu tes memasak menu Indonesia, saya harus menyiapkan 60 menu Nusantara dalam waktu dua minggu. Ini tantangan dan akhirnya bisa saya lewati. Tamu-tamu mancanegara sekarang banyak yang suka makanan Indonesia, tidak lagi nasi goreng dan mie goreng, tapi juga rawon, nasi campur Bali dan menu-menu lainnya”
Karya Termahal
Makanan yang disajikan di hotel berbintang memang mahal. Nah kalau di Hotel Four Seasons tempat Chef Vindex bekerja, biasa untuk masakan Asia perkiraan antara Rp 105.000 – Rp 135.000, masakan Indonesia sekitar Rp 60.000 – Rp 130.000, masakan barat sekitar Rp 100.000 – Rp 340.000 dan masakan Jepang sekitar Rp 60.000 – Rp 240.000.
Foto dibawah ini adalah makanan termahal hasil racikan Chef Vindex.
Nggak perlu bertanya ini itu, jelas kalian tau foto dibawah ini adalah burger. Iya, burger.
clip_image001
Ini adalah burger dengan harga $110 atau satu juta rupiah.
Adonan burger ini terbuat dari gandum dengan bawang, dengan isi daging sapi kobe (kobe beef) yang kira-kira harganya 2.5jutaan per kilogram, lalu toppingnya campuran wasabi dengan mayonnaise, jamur portobello, dan disajikan dengan pir asia, foie gras dan kentang goreng.


Chef Master Marinka


Biodata:
Nama: Maria Irene Susanto (Rinrin Marinka)
Kelahiran: Jakarta, 22 Maret 1980
Pendidikan:
SD-SMP Gandhi International School, Jakarta, Indonesia
SMU Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang
Jurusan Art & Design KvB Institute, Sydney, Australia (1998-1999)
Visual Communication kajian utama Fashion Design di KvB Institute (1999-2002)
Le Cordon Bleu, Sydney, Australia (2002-2004)
Acara TV:
Kuis Rezeki Ramadhan SaSa di Trans7
Selebrita Siang di Trans7
Selamat Pagi di Trans7
Cooking in Paradise di Trans7
Sendok Garpu di JakTV
Sisi Kota untuk TVN
Dunia Laki-laki di JakTV
MasterChef Indonesia di RCTI
Film Bunian (pemeran utama), produksi Merah Putih Production di Sydney, Australia
Mengajar:
Pantry Magic Cooking School, Kemang (pengajar tamu)
Buku:
Fantastic Cooking, Gramedia, Maret 2011

"Jangan pernah takut bereksperimen dalam memasak."
Hal itu menjadi salah satu tip yang ditulis oleh Rinrin Marinka, 31 tahun, dalam bukunya,Fantastic Cooking. Ia mengaku sudah hobi berkecimpung di dapur sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Aneka bahan makanan yang ada biasa ia campur sekenanya. Hasilnya? 
"Kalau tidak gosong, ya, kuenya jadi bantat," kata dara kelahiran 22 Maret 1980 itu diiringi derai tawa.
Tapi Rinrin tak pernah kapok. Kelak, hobi memasak itu amat berguna saat ia melanjutkan sekolah di Australia. Di sela mempelajari bidang desain di Jurusan Art & Design KvB Institute di Sydney, ia biasa mengisi waktunya dengan memasak. Bahkan, ketika sekolahnya di bidang desain telah rampung, ia memperpanjang tinggal di Negeri Kanguru dengan bersekolah di Le Cordon Bleu Sydney selama hampir dua tahun. Banyak orang menganggap ini sekolah terbaik di dunia untuk belajar masak-memasak.
Rinrin merasa tak ada yang salah dengan keputusannya itu. Memasak baginya merupakan salah satu bentuk seni. Sebagai seniman, kata penyuka parfum Lovely dari Jessica Sarah Parker itu, seorang koki atau chef harus mampu mengeksplorasi untuk membuat makanan yang lengkap sehingga bisa dinikmati secara rasa dan visual. 
"Kepribadian seseorang bisa dilihat dari cara masak dan menyajikan makanan di piring dan meja," ujarnya.
Jika dilihat sekilas dari keahlian memasak dan tubuhnya yang mungil, orang akan mengira ia pribadi yang "rapuh". Siapa sangka dengan tinggi badannya yang cuma 158 sentimeter dan berat 48 kilogram, pemilik nama asli Maria Irene Susanto ini, adalah penggemar olahraga ekstrim. Berbagai macam olahraga yang biasa digeluti kaum lelaki, seperti menyelam, arung jeram, paralayang, panjat dinding, hingga tinju, sudah pernah dicobanya. Oleh karena itu, meski sekilas tampak lembut dan seksi, sejatinya Rinrin bisa amat tegas dalam bersikap.

Selain dipenuhi buku-buku tentang memasak, perpustakaan penthousepribadinya di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, juga menyimpan buku sastra karya William Shakespeare, hingga Harry Potter dan Eragon. Selain itu, Rinrin juga menyimpan boneka lelaki setengah badan yang terbuat dari karet. "Itu pengganti samsak kalau aku latihan bertinju," ujarnya. Meski penggemar olahraga maskulin, Rinrin menyiasatinya agar tetap bisa terlihat feminin. Warna pink pun jadi pilihannya. Mulai sarung tinju, celemek, hingga gagang peralatan untuk memasak semuanya berwarna merah muda.

Kiprah Rinrin di dunia kuliner di Tanah Air melejit saat ia membawakan acaraCooking in Paradise di Trans7. Sebelumnya, ia telah menjadi pembawa acaraSendok Garpu di JakTV. Dalam acara di Trans7, Rinrin ditantang untuk membuat masakan dari bahan-bahan ala kadarnya yang ditemui selama berpetualang di daerah yang ia kunjungi. Karena kegiatan memasak lebih sering di alam terbuka, mau tak mau busana yang dikenakannya harus disesuaikan dengan cuaca yang panas.

Dari situlah muncul stigma terhadap Rinrin sebagai sexy chef , seperti halnya Farah Quinn yang memandu Ala Chef di TransTV. 
"Enggaklah, kami berbeda, kok. Jadi, jangan dibandingkan," ujarnya.
Rinrin punya obsesi suatu hari nanti bisa menciptakan modifikasi menu Nusantara dan membawanya ke dunia internasional sebagai ciri khas Indonesia. 
"Misalnya, hasil eksperimen saya, oncom bebek atau mi abon dengan kualitas rasa internasional," tuturnya.
Sebelum mengasuh acara masak, Rinrin sempat membuka kafe pada 2005. Kafe itu bernama Warung Telur Ceplok dan terletak di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Harga menu yang dijualnya tergolong murah, berkisar Rp 20-35 ribu. Namun, karena keliru menerapkan konsep pemasaran, warungnya hanya bertahan 1,5 tahun.

Selain mengasuh acara masak dan menjadi juri dalam acara MasterChef Indonesia, Rinrin menjadi pengajar tamu di Pantry Magic Cooking School, Kemang. Dalam waktu dekat, ia juga akan membuka sekolah atau tempat kursus sendiri di Jalan Hasyim Asyari. Namanya "R Kitchen". 
"Ruangan kelas masih dalam penataan tahap akhir," ujarnya.

Master Chef Juna

Profil
Junior Rorimpandey namanya. Kelahiran diManado yang lahir pada 20 Juli 1975. Profesi Chef Juna terjadi secara nggak sengaja. Pada tahun 1997, ia pergi ke Amerika Serikat (Brownsville, Texas) untuk sekolah penerbangan. Chef Juna telah mendapat lisensi pilot, tapi ditengah mengambil lisensi komersial, sekolah penerbangannya bangkrut. Akhirnya ia pergi ke Houston untuk lanjutkan pelatihan. Awal 1998 disaat Indonesia sedang dilanda krimon (krisis ekonomi), ibunya nggak bisa membantu keuangannya di luar negeri, dan akhirnya ia harus mencari kerja walau secara ilegal (belum mendapatkan ijin kerja).
 
Berbagai pekerjaan yang dicoba Chef Juna, akhirnya ia kerja di restoran tradisional Jepang sebagai waiter (pelayan). Setelah 2 minggu, master sushi menawarkannya untuk jadi muridnya, Chef Juna terima tawaran itu. Ia akhirnya mulai dari dasar dan dilatih sangat keras. Pemilik restoran itu kagum dengan kinerjanya dan mensponsori Chef Juna untuk mendapatkan PermanentResident (ijin tinggal).






Pada tahun 2002, Chef Juna mengambil alih sebagai head chef (kepala koki) di restoran karena sushi master yang melatih Chef Juna ini pindah ke restoran lain. Di tahun 2003, ia pindah kerja ke restoran
sushi nomor satu di Houston yang bernama Uptown Sushi. Setelah beberapa bulan, ia menjadi Executive Chef disana. Masuk ke tahun 2004, Chef Juna mulai jenuh dengan masakan Jepang, dan akhirnya ia pindah ke restoran Perancis,The French Laundry yang dikenal sebagai restoran yang menerapkan standar tinggi. Ia mulai dari awal lagi. Lalu, ia juga mencari pekerjaan di tempat lain agar dapat belajar lebih banyak.

Di French Laundry, ada hukuman bagi yang melakukan kesalahan walau kesalahan sederhana. Mereka dilatih dengan baik dan disiplin yang diterapkan seperti militer. Disana Chef Juna belajar banyak teknik, mengontrol protein pada makanan, dan menciptakan makanan yang dihias cantik dan sangat enak.
“Memasak adalah suatu yang anda cintai ketika anda berada di dapur, dan itu bukan hanya sekedar pekerjaan. Itu adalah sebuah gairah dan pekerjaan yang sulit. Saya suka memasak karena saya menilai masak sebagai seni. Ketika saya membuat hidangan baru, itu seperti telah selesai sebuah proyek seni. Berjuang untuk kesempurnaan membuat masakan yang lezat dengan bahan berbagai warna dan terlihat cantik di piring. Setiap malam saya memasak di dapur, terutama malam yang super sibuk, saya merasa bahwa prestasi saya tercapai karena saya membuat pelanggan kenyang, senang dan memberikan mereka pengalaman bersantap yang hebat. Saya juga suka suasana dapur yang sibuk, suara panci panas saat bahan masakan dimasukkan, suara peralatan masak, orang-orang berkomunikasi satu sama lain tentang apa yang mereka lakukan, semua itu seperti musik di telinga saya”, kata Chef Juna yang sekarang menjadi Executive Chef di restoran Jack RabbitJakarta. 
Jackrabbit adalah sebuah restoran yang baru mulai beroperasi di akhir tahun 2010 lalu. Restoran ini digawangi oleh orang-orang yang sudah berpengalaman dalam menjalankan bisnis food and beverage, seperti Andrew Santoso (Embassy, Score, Loewy, Portico, Domain), Carsonn Quinn (mixologist berpengalaman di Ritz Carlton dan Inggris) , dan Juna Rorimpandey (belajar di bawah koki kenamaan, Michael Symon dan Chef Thomas Keller). Di bawah kepemimpinan Juna, Jackrabbit mencoba menjadi sebuah restoran yang menjadi standar restoran yang baik.
Juna Rorimpandey, "Butuh dedikasi, kemauan, motivasi, dan disiplin untuk bisa sukses menjadi koki."
Empat belas tahun lalu Juna berangkat ke Amerika untuk menuntut ilmu. Di sana, ia terpaksa bekerja sebagai koki, lama kelamaan, dengan banyaknya orang yang memuji keterampilannya, Juna makin menekuni dan mencintai apa yang ia lakukan. Ceritanya memang terkesan singkat, namun, apa yang ia jalani untuk mencapai titik puncak ini bukan hal yang mudah.
Menurut penuturan Juna "Butuh lebih dari sekadar passion untuk bisa sukses sebagai chef."
"Saya mencoba membuat Jackrabbit sebagai sebuah restoran yang segalanya dilakukan secara profesional. Mulai dari penanganan makanan, minuman, juga servisnya. Ketiga hal ini saya rasa kurang dari culinary scene di Jakarta. Karena itu saya masih ingin membangun lebih baik lagi. Kami memang belum sempurna, tetapi kami sudah memiliki gol-gol. Dan itu harus dilakukan dengan kerja keras," cerita Juna mengenai restoran yang terletak di Cyber 2 Tower Ground Floor, Jl. HR Rasuna Said X-5 no. 13.

Selama 14 tahun menjajal ranah Amerika untuk menekuni profesinya, Juna bercerita mengenai kesulitan menjadi seorang koki.
"Saya memulai profesi menjadi koki bisa dibilang kecelakaan. Saya saat itu harus bekerja supaya bisa terus hidup, bayar sewa, dan lainnya di sana. Lama kelamaan, orang-orang bilang i'm good at what i'm doing. Saya terus tekuni. Perlu diketahui, menurut saya, profesi sebagai chef sangat butuh dedikasi. Bukan anggap remeh pekerjaan lain, tetapi sebagai chef, memang dibutuhkan kerja keras. Yang orang lihat di program televisi, seperti Masterchef atau Hell's Kitchen, itu cuma show. Tetapi, di balik layar, sebagai chef itu tidak mudah dan benar-benar butuh dedikasi. Saya sendiri dari jam 8 pagi sampai jam 2 pagi ada di sini. Tak ada pula hari libur. Bahkan di hari-hari libur, kita harus kerja, karena di saat-saat itulah orang-orang ke restoran, termasuk saat akhir minggu. Itu butuh dedikasi. Itu juga butuh strong will. Tak heran banyak pula orang-orang di dapur yang hubungan pernikahan atau percintaannya bubar. Karena kita tak pernah ada untuk mereka, kita selalu bekerja. Mungkin kalau sudah top sekali, baru bisa santai. Tetapi untuk mencapai posisi atas itu, butuh kerja keras. Selama 13 tahun menjadi chef di Amerika, saya cuma pernah datang ke 1 kali acara undangan ulang tahun teman. Begitu pun upacara pernikahan teman banyak kali juga tidak bisa hadir, karena mereka adainnya di akhir minggu."
Juna bercerita, siapa pun yang berencana menjadi seorang koki, harus punya beberapa karakteristik, antara lain; kemauan, disiplin, dan pandai memotivasi diri. "Dalam 4 bulan, saya bisa ajarkan tentang dapur, tentang apa yang diajarkan di sekolah hospitality, tetapi untuk bisa masak dan menjadi chef, lain lagi yang dibutuhkan. Tidak harus selalu sekolah kuliner untuk bisa menjadi chef andal. Saya sebenarnya belajar untuk menjadi pilot, dulu, sebelum ke Amerika, saya kuliah jurusan Perminyakan di Trisakti, lalu saya belajar untuk menjadi pilot. Saya tidak mengatakan belajar di sekolah kuliner tidak berguna, tentu ada gunanya. Yang terpenting adalah individu itu mau belajar, serta bisa mengapresiasi pekerjaan ini, bukan hanya melihat profesi ini hanya sebagai pekerjaan saja," jelas koki yang tangannya ditutupi tato ini.

Untuk terus bertahan dan menempati titik tertinggi karier sebagai koki bukan hal yang mudah, apalagi di negeri orang. Juna menuturkan tips yang ia lakukan,
"Sejak awal bekerja, saya terus menantang diri untuk melamar ke restoran yang lebih tinggi lagi. Setiap liburan, saya memilih untuk menimba ilmu. Saya mendaftarkan diri untuk bekerja selama rentang waktu tertentu untuk bekerja di bawah atau dilatih oleh koki-koki yang terkenal di Amerika. Seperti magang. Di sana bisa begitu, tetapi sebelum menerima orang, tentu mereka juga melihat resume dan kapabilitas mereka. Saya melihat hal itu salah satu sebagai kualitas bagus di diri saya, yakni tak pernah puas, ingin terus belajar, menutup kekurangan. Prinsip saya, i'm still gonna be a student till the end of the day. Jadi, kembali lagi dedikasi, motivasi, dan disiplin."
Bagaimana dengan passion?
"Kalau saya boleh bicara, memasak bukan passion saya. Itu adalah pilihan dead end saya di awal karier. Di awal-awal, memasak adalah sebuah pekerjaan untuk mendapatkan pemasukan. Tentunya sekarang memasak sudah menjadi passion. Saya percaya, jika kita memasukkan 100 persen pikiran kepada pekerjaan, kita bisa sukses. Saya keras, bahkan kepada diri saya sendiri pun saya keras sekali. Kebetulan, i'm good at what i'm doing, bukan saya yang bicara, tetapi itu apa kata orang, ya. Makanya itu pula saya terus naik, naik, dan naik. Ibaratnya, sudah kecemplung sedengkul, sekalian menyelam. Kalau ditanya apa passion saya, ya saya lebih suka mengurus Harley Davidson," tutur Juna yang juga mendalami molecular gastronomy ini.
Harus siap menghadapi pengorbanan, karena ada harga yang harus dibayar untuk menjalani profesi ini, begitu kata Juna. Apakah Juna pernah mengalami penyesalan, ia berkata,
"Penyesalan, tak pernah, jalani saja, dan tidak melihat ke belakang. Tetapi saya pernah dan teman-teman chefchef. Jangan kira menjadi Executive Chef kerjanya hanya melihat dan menyuruh-nyuruh saja. Untuk sebagian institusi mungkin iya, tetapi saya tidak. Itu bedanya chef hotel dengan chef independent restaurant di Amerika yang saya lihat. Kalau di Indonesia, saya tidak mau berkomentar. Saya masak sendiri di dapur Jackrabbit. Tangan saya tetap terbakar saat memasak. Saya hands on. Benar-benar perfeksionis. Ini restoran baru, tim baru, semua masih berantakan. Karena itu, saya ikut turun tangan, mulai dari potong daging, menghilangkan sisik ikan, semuanya saya kerjakan juga sambil saya mulai sedikit demi sedikit latih orang."
Saya pernah cemburu kepada teman-teman sebaya yang bekerja di kantoran. Mereka sudah berkeluarga, kerja Senin-Jumat, Sabtu-Minggu bisa istirahat dan bersenang-senang, sementara saya harus bekerja. Kadang itu pengorbanannya. Itulah harga yang harus dibayar dengan bekerja sebagai
"Yang saya dapat adalah satisfaction, dengan kata lain, menjadi chef itu seperti seniman. Kami tidak mendapat spotlight seperti pemain sinetron atau model, tetapi kami juga seniman. Buat saya, dapur itu seperti laboratorium, kita bereksperimen di sana. Beberapa berhasil dan kita taruh di menu, sebagian lainnya gagal, kita buang dan coba lagi. Trial and error. Saat menumpuk dan mencampur bahan makanan, ada kepuasan tersendiri untuk mencipta. Selain itu, saat kita melihat restoran berjalan dengan lancar, ada kepuasan batin tersendiri. Kita melayani dan membuat orang lain bahagia, lalu mereka memuji dan puas, tidak ada complain, itu juga kepuasan tersendiri," jelas Juna lagi.
"Saya suka dentang wajan dan panci di atas kompor, seperti musik di telinga saya. Seperti orkestra, saya berkomunikasi dengan para koki lain untuk membuat pesanan tepat waktu. Adrenalinnya, kesibukannya, tempo cepat, dan tekanan, ketika itu semua selesai, tahu bahwa saya baru saja melewati satu malam yang sibuk untuk melayani orang, menciptakan sebuah kebahagiaan di dalam yang hanya saya yang bisa rasakan. Dan hal itu memberi senyum di wajah saat saya tertidur pulas di malam hari," tulis Juna dalam siaran kepada pers.
"Di dapur, saya seperti sersan. Saya keras, karena orang yang tidak kuat mental dan tidak mau di industri ini, sebaiknya pilih profesi lain. Karena kalau mau jadi good cook, lalu mau jadi good chef, harus mau belajar. Saya bukan mengatakan teknik dan cara saya adalah yang terbaik di seluruh Jakarta, tetapi, buat saya, tim yang bekerja dengan saya harus mengikuti cara saya, supaya segalanya seragam dan sama, demi kepuasan pelanggan dan menjaga citra kami juga, yang tujuannya ingin menjadi standar restoran di Jakarta. Tim saya adalah tim kami, saya bukan siapa-siapa tanpa mereka. Saya ajarkan teamwork, setiap pagi saat masuk kerja, saja ajarkan untuk mereka menyapa semua orang, jabat tangan dengan semuanya, tidak ada yang boleh merasa lebih jago. Tanpa pencuci piring, saya bukan siapa-siapa. Masing-masing individu di dalam dapur saya memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri. Tak mungkin saya kerjakan semua sendiri di dapur. The team is only as strongest as the weakest team member. Jadi, semua harus tahu itu," tutup Juna.

Masa muda Chef Juna
Waktu umur 17 tahun, Chef Juna ini termasuk anak berandalan, ia buat sebuah geng yang bernama Bad Bones. Dengan mengendarai Harley, mereka ngebut dan nggak peduli kemanapun mereka pergi.
“Saya pernah kuliah teknik perminyakan selama 3,5 tahun di Indonesia, tapi nggak selesai karena saya terlalu nakal. Akhirnya saya memutuskan untuk membenahi hidup, berubah, dan pindah ke Amerika. Saya sampai menjual motor kesayangan untuk biaya sekolah di sana”
Diculik, disiksa, overdosis dan hampir ditembak di kepala udah pernah dirasakan Chef Juna. Merokok dan terjerumus dalam narkoba juga pernah. Tapi ia berubah karena ia punya pemikiran berbeda.
Di kedua lengan Chef Juna ini bertato. Tato itu dibuat waktu Chef Juna umur 15 di Bali, dengan menggunakan mesin buatan sendiri yang menggunakan jarum jahit.

Dikutip dari:
http://female.kompas.com/read/2011/03/28/17342354/Juna:JadiChefEnggakCukupCumaBerbekalPassion
http://shannypersonalblog.wordpress.com/2011/05/29/master-chef-indonesia/
http://mysuperlounge.com/profil-juri-master-chef-indonesia/
http://www.kaskus.us/showpost.php?p=428348573&postcount=5

No comments: